12
Sep

Idealisme Vs Realitas

Hari ini, kembali kebosanan menyeruak….
bosan dengan segala rutinitas yang tidak berubah dari hari ke hari…
segala dinamika semasa dulu serasa hilang…
dinamika yang timbul dari segala aktivitas yang penuh mobilitas namun kini, rutinitas sehari-hari hanya diisi oleh aktivitas yang serupa… hhhhhhhhhhuuhhhhh….. BOSAN…. feel like Stuck in a Moment… how to get out from this bored situation??????
mmmmmmmm… how???how???how???? situasi bosan ditambah pula dengan kondisi yang sangat jauh dari idealitas selam ini…
idealisme yang sudah terbangun sejak dari masa menjadi mahasiswa runtuh dengan sukses ketika berhadapan dengan realitas di lingkungan kerja…
tapi banyak yang bilang kalau idealisme mahasiswa tidak dapat diterapkan di dunia kerja.. karena realitasnya seperti itu…(katanya..)
tapi jika semua idealisme hancur karena berhadapan dengan sistem lingkungan kerja yang”salah”, lalu kemana orang-orang idealis harus mencari sesuap nasi????
jika idealisme terkalahkan, lalu sampai kapan sistem bobrok akan tetap bertahan????
jika idealisme terruntuhkan, mau sampai kapan reformasi perombakan terhadap sistem bisa dilancarkan????
namun jika melihat realitas yang ada, memang kecil kemungkinan idealisme dapat bertahan….
yeah, bagaimanapun juga, yang paling penting adalah bagaimana kita harus selalu berusaha mempertahankan idealisme di tengah-tengah realitas yang mungkin berlawanan arus…
yang kedua, terapkan idealisme kita sesuai dengan kondisi realitas yang ada… bagaimanapun juga jika kita berada dalam persimpangan idealisme dan realitas, langkah yang paling tepat adalah mengambil jalan tengah di antara keduanya… seimabang itu lebih bagus daripada berat sebelah kan????
logikA yg sangat sederhana bukan..??
skarang bagaimana caranya smua ini sukses di tahapan aplikasi, dan biasanya inilah tahapan tersulit.. ngomong sih gampang, tapi merealisasikan omongan itu susah bgt..
dan lom bisa dibilang orang yg Brilian..!!

karena Orang brilian bukanlah orang yang mempunyai pikiran brilian, melainkan orang yang telah melakukan sesuatu yang brilian
12
Sep

PUNK IS DEAD..!!

Gerakan punk itu tidak bermakna sempit yg berarti gerakan yang menentang pemerintahan amerika serikat atas pemusnahan ras indian saja..!!
Karena pada awalnyapun Punk merupakan sub-budaya yang lahir di London, Inggris (jauh sebelum di Amerika ada budaya Punk)
Pada awalnya, kelompok punk selalu dikacaukan oleh golongan skinhead. cuman, sejak tahun 1980-an, saat punk merajalela di Amerika, golongan punk dan skinhead seolah-olah menyatu, karena mempunyai semangat yang sama. Namun, Punk juga dapat berarti jenis musik atau genre yang lahir di awal tahun 1970-an. Punk juga bisa berarti ideologi hidup yang mencakup aspek sosial dan politik.
Gerakan anak muda yang diawali oleh anak-anak kelas pekerja ini dengan segera merambah Amerika yang mengalami masalah ekonomi dan keuangan yang dipicu oleh kemerosotan moral oleh para tokoh politik yang memicu tingkat pengangguran dan kriminalitas yang tinggi. Punk berusaha menyindir para penguasa dengan caranya sendiri, melalui lagu-lagu dengan musik dan lirik yang sederhana namun terkadang kasar, beat yang cepat dan menghentak.
budaya perlawanan anak punk Indonesia tidak lantas harus pake koteka, karena itu sama2 akan bermakna fashion juga kalo niatnya fashion
kontribusi anak Punk Indonesia sangatlah berarti untuk cita2 Revolusi.. secara sadar gak sadar walaupun kebanyakan anak muda masuk Punk hanya gaya2an tpi lambat laun mereka militan dengan sendirinya, karena terbiasa dengan obrolan mereka di jalan ketika nyetreet, denger lirik2 lagu2 mereka (kecuali lirik yg nihilis) bahkan gerakan Aksi demontrasi (seperti FAF Bdg dan Freedom Community Garut)
Banyak yang menyalahartikan punk Indonesia sebagai glue sniffer dan perusuh karena yg ngomong gitu liat parameternya di Inggris ketika pernah terjadi wabah penggunaan lem berbau tajam untuk mengganti bir yang tak terbeli oleh mereka. Banyak pula yang merusak citra punk karena banyak dari mereka yang berkeliaran di jalanan dan melakukan berbagai tindak kriminal.
Punk Indonesia lebih ke Fashion??? memang di seluruh dunia pun Punk lebih terkenal dari hal fashion yang dikenakan dan tingkah laku yang mereka perlihatkan, seperti potongan rambut mohawk ala suku indian, atau dipotong ala feathercut dan diwarnai dengan warna-warna yang terang, sepatu boots, rantai dan spike, jaket kulit, celana jeans ketat dan baju yang lusuh, anti kemapanan, anti sosial, kaum perusuh dan kriminal dari kelas rendah, pemabuk berbahaya sehingga banyak yang mengira bahwa orang yang berpenampilan seperti itu sudah layak untuk disebut sebagai punker, dan Punker seolah2 jadi mainstream akhirnya..
Memang Ada yg aneh menurutku. Ketika melihat bahwa Salah satu karakteristik punk adalah : Anti mainstream atau anti trendy. Tp kalo sekarang ada kecenderungan yang menggelikan (kalo tidak disebut menjijikkan) yaitu adanya tren fashion ala punk. Dari gaya rambut (lilbit mohawk, spike) trus aksesoris dan fashion yang diadopsi secara kolektif oleh distro2.
Hal ini membuat punk sebagai subculture mjd berbalik jd mainculture dan anak2 punk yang benar2 punkerz sudah sulit untuk dibedakan. Kecuali dari crowd saat ada gig punk ajah. Lalu saya ngga tau kenapa anak punk sekarang tidak melawan kecenderungan ini dengan seperti misalnya memakai celana kombor dengan bahan katun dan warna gelap atau jaket kulit diganti jaket parasit..hehe..
(lucunya : ada kejadian seorang straight punk (seorang vegetarian tulen) yg memakai sepatu dari kulit..haha , muna kagak tuh..)
tapi kita jangan lihat sebelah mata bahkan kasat mata semua ini, masih banyak koq yg pertahanin idealismenya dan bahkan melakukan gerakan riil yg kontribusinya sangat berarti untuk Revolusi tatanan Sosial di Indonesia..
kalian yg cuman jadi anak Punk dalam waktu sebentar gak bakalan ngerti..misalkan masuk Punk hanya pas SMP or SMA ataupun ikut nongkrong doang karena mo minum gratis..
coba dateng ke Riotic, Harder dll di Bdg atau ke Noise di Siliwangi Garut dan Freedom Community di jalan Merdeka Garut.. budaya Disscus mereka lebih kental daripada mahasiswa yg doyan Dugem dan mencibir kaum Punk..!!
kebanyakn org bodoh (tidak sedikit org bodoh tersebut aktivis gerakan) hanya menganggap Punk dari sudut fashion saja tidak melihat bahwa Punk juga merupakan sebuah gerakan perlawanan anak muda yang berlandaskan dari keyakinan we can do it ourselves. Penilaian punk dalam melihat suatu masalah dapat dilihat melalui lirik-lirik lagunya yang bercerita tentang masalah politik, lingkungan hidup, ekonomi, ideologi, sosial dan bahkan masalah agama
Punk tidak harus Mohawk, Punk tidak harus Spike, Punk tidak harus Nyetreet, Punk tidak harus Unam (Straight Edge) Punk tidak harus pake anting dan tatoo..!!
Hanya org2 bodoh yg bilang itu semua jadi prasarat untuk masuk anak Punk..
Dan realitanya memang terjadi sekarang.. banyak yg mengaku dirinya Punk padahal jauh dari Punk yg sebenarnya, yg pada akhirnya muncul image public yg bilang Punk hanya sekedar Trend..
Banyak juga mantan Aktivis Punk yg kecewa dan bilang kalo Punk telah mati (Punk is Dead)
Ok..

Punk Maybe Is Dead

But Ariz Still Alive..!!!
11
Sep

What Emo 4 me..?

i cant really say what emo for me. one day the music just clicked, and i never turned back. FOr me its all about the music. Music is my way out of this shitty world we live in .One of the things i live for. DOnt confuse music and lifestyle. Emo isnt a trend or fashion??? I dont belive in the sterotypes and dont believe u should class a person as Emo.

JUst feel the music, live it and share it.
11
Sep

Puasa dan Budaya Konsumtif

Sebetulnya apa sih yang menyebabkan orang-orang begitu bersemangat berjualan di bulan Ramadhan??. Bukankah bulan ini seharusnya kita memperbanyak ibadah, melakukan perenungan? tetapi kenyataannya kenapa lebih banyak lagi yang lebih tertarik untuk mencari tambahan penghasilan justru di bulan ini.
Emang sih secara ekonomi ini adalah hal yang wajar. Pas ada moment khusus, tentu ada permintaan khusus. Makin tinggi permintaan, makin banyak penawaran. Saat permintaan sudah jenuh, maka penawaran akan melebihi permintaan sehingga tidak lagi menguntungkan. Tetapi walau begitu permintaan tidak akan hilang begitu saja. Ada hal lain yang menyebabkannya, yaitu tradisi, ya gak?.
Di sini, atau secara spesifik bisa dikatakan di Garut - Jawa Barat, tradisi buka puasa tidak hanya didahului dengan minuman tapi juga kue -ringan atau berat. Tadinya kebutuhan ini akan disediakan sendiri oleh setiap orang atau setiap keluarga yang menjalankan ibadah puasa. Cuman sekarang lebih banyak orang yang memilih cara mudah yaitu membeli, coz lebih praktis. Dari kebiasaan ini lalu muncul “Pasar Ramadhan”. Tapi tradisinya tidak hanya itu, setelah itu masih ada Lebaran yang lebih mewah, lebih istimewa. Tradisi Lebaran dilengkapi dengan hidangan istimewa dan baju baru, sepatu baru, tas baru, jaket baru, dan lain sebagainya. Kalau bisa semuanya baru. Ini mendorong lagi munculnya Pasar Ramadhan versi kedua yang tidak hanya menjual makanan dan minuman, tapi juga pernak-pernik Lebaran. Sebenarnya kenyataannya tidak hanya yang dalam bentuk pasar tradisional, karena pusat-pusat perbelanjaan pun memanfaatkan momen ini untuk menarik pembeli sebanyak-banyaknya dengan menjual nama Lebaran.
Dan semua itu sah-sah saja. Boleh saja. Yang menjadikan tradisi ini luar biasa kalau dipikirkan adalah ketidakpantasannya. Karena kalau kita lihat dari luar, selama bulan puasa itu yang meningkat adalah belanjanya, konsumsinya bukan ibadahnya. Itulah yang terjadi. Puasa berjalan otomatis. Yang dipikirkan adalah berbuka dengan apa nanti, atau Lebaran nanti harus pakai baju apa dan seterusnya dan seterusnya.
Apakah lantas karena itu kita harus menutup dan tidak mengijinkan semua Pasar Ramadhan? atau melarang mal-mal melancarkan trik penjualan untuk menarik pembeli? Tentu tidak, kalau itu yang dilakukan sama saja dengan bila kita ingin membunuh seekor nyamuk, tapi menyemprotkan sekaligus sekaleng Baygon. Tidak demikian, tidak perlu berlebihan.
Pasar yang berlebih akan hilang dengan sendirinya bila permintaannya berkurang. Tidak perlu dilarang atau dibatasi. Kontrol tentang hal itu ada pada kita sendiri. Kita mau meningkatkan pemahaman diri atas esensi puasa atau cuma mengumbar semangat konsumtif, itu pilihan kita masing-masing.
Lagian dengan tulisan ini saya tidak bermaksud untuk memberi penilaian salah atau benar. Tulisan lebih berupa sebuah refleksi. Potret yang kita lihat setiap kali bulan puasa tiba. Sebenarnya masalah konsumsi yang berlebihan ini sudah sering sekali dibahas, ditulis atau dibicarakan jadi boleh dibilang wacana basi lah, coz gw yakin hal ini sering didiskusikan oleh kalian atau sekedar mendengar fenomena seperti ini. Pertanyaan yang timbul selanjutnya, kenapa tidak juga ada perubahan dari pola konsumsi kita? Apa yang salah dengan kita?
Karena itu marilah kita renungkan kembali apa esensi dari puasa yang sesungguhnya. Apa yang seharusnya kita tingkatkan, apa yang seharusnya mengalami transformasi, perubahan. Perubahan ke arah mana, menjadi apa. Bila setiap dari kita memahami dan mengalami transformasi yang baik, maka masyarakat secara luas juga akan berubah ke arah yang lebih baik. Individu baik, masyarakat baik. Masyarakat baik, negara baik.
Jadi mari kita gunakan momen bulan Ramadhan kali ini untuk melakukan transformasi menuju masyarakat yang lebih baik, lebih dewasa.



Categories

Archives

 

December 2009
M T W T F S S
« Sep    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Pages

Tags